Benarkah silaturahmi melapangkan rizki?, mari kita sejenak melihat
lebih jauh mengenai silaturahmi untuk menemukan jawaban dari
pertanyaan tersebut. Jika kita bertamu ke rumah seseorang, biasanya
apa yang pertama kali dilakukan tuan rumah kepada kita?. Tentukan
saja mempersilahkan masuk, lalu?, biasanya tuan rumah akan menanyakan
mau minum apa?, apalagi kalau kita bertamu agak lama dan melewati jam
makan. Biasanya tuan rumah akan mengajak kita makan. Bukankah dengan
melihat hal yang terjadi dalam kehidupan sehari sebagaimana anekdot
di atas kita sudah menemukan jawaban pertanyaan "Benarkah
silaturahmi melapangkan rizki?", jawabannya "ya,
silaturahmi melapangkan rizki". Segelas teh dan sepiring nasi
beserta lauknya kalau untuk orang yang makannya tiga kali sehari
dengan lauk yang mewah, mungkin tidak merasakan adanya kemudahan
rizki yang dia peroleh dari bersilaturahmi. Tetapi untuk orang sedang
kehausan dan kekurangan makanan karena perjalanan yang panjang akan
merasakan segelas teh dan sepiring nasi merupakan nikmat yang luar
biasa, apatah lagi bagi orang-orang yang jauh dari keluarganya
merantau di negeri orang dalam keadaan keuangan yang kurang baik,
diterpa haus dan lapar, segelas teh dan sepiring nasi akan menjadi
nikmat yang sangat terasa besarnya.
Ini sebenarnya sudah dikabarkan
oleh Rasulullah Sholallahu 'alaihi wassallam dalam sabdanya:
Dari Anas bin Malikرضي الله عنه bahwa
Rasulullahصلي الله عليه وسلم
bersabda, “Barangsiapa ingin dilapangkan baginya
rezekinya dan dipanjangkan untuknya umurnya hendaknya ia melakukan
silaturahim.” [HR. Bukhari dan Muslim]
Lalu hanya sekedar itukah kelapangan rizki yang diperoleh dari
bersilaturahmi?, tentunya tidak. Tidak dapat dipungkiri, setiap
manusia dalam perjalanan hidupnya membutuhkan orang lain. Seorang
pengusaha memerlukan karyawan untuk menjalankan perusahaannya agar
meraup keuntungan, sebagaimana karyawan juga memerlukan pekerjaan
tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Silaturahmi antara
seorang pengusaha dan pencari kerja tentunya mempermudah pengusaha
dan karyawan mendapatkan masing-masing kebutuhan mereka. Bukankah itu
juga merupakan kelapangan rizki?
Kemudian apa lagi?, silaturahmi membuat seseorang mengetahui banyak
informasi dan pengetahuan. Ada yang mengatakan bahwa "informasi
itu merupakan kebutuhan primer, karena dengan informasi seseorang
bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya", tapi entahlah itu benar
atau tidak. Tapi kalau merenung sejenak dan berfikir, seorang Ibu
sedang mengobrol Ibu lainnya, ketika sedang terjadi obrolan yang
panjang, salah satu dari dua Ibu tersebut bertanya, "Tadi pagi
sarapan apa Ibu?", Ibu yang lain menjawab, "nasi uduk Ibu".
Ibu yang bertanya tadi pun kembali bertanya, "Emang cara membuat
nasi uduk itu bagaimana ya Bu", Ibu yang lain pun menjelaskannya
sampai Ibu yang bertanya yakin bisa membuat nasi uduk juga. Singkat
cerita, beberapa hari kemudian Ibu yang bercerita tadi berjualan nasi
uduk, seiring berjalannya waktu ternyata nasi uduk Ibu tadi laris
hingga menjadi penghasilan utamanya dalam memenuhi kebutuhan
keluarganya. Bukankah itu bukti bahwa silaturahmi memang benar-benar
melapangkan rizki bagi yang senang melakukannya. Hal ini tidak hanya
berlaku pada nasi uduk, tapi juga informasi-informasi lainnya.
Lalu apa lagi?, kita buktikan sendiri apa benar sih silaturahmi
melapangkan rizki,...


0 comments:
Post a Comment